Dzat Allah, Sebuah Dilema antara Fiktif dan Tak Terjangkau Akal

Posted: Januari 26, 2012 in Dunia Islam
Tag:

Mungkin banyak diantara Muslim yang sering bertanya tentang Pribadi Allah, sebenarnya pertanyaan tersebut tidak haruslah dijawab karena memang manusia memiliki “Kapasitas” dalam berfikir, jangankan memikirkan Wujud Allah, menemukan angka terbesar dan angka terkecil sampai sekarang pun belum tau angka tepatnya berapa. Namun, situasi berubah ketika saya bertemu teman yang suka sharing. Dia jelas merasa risih karena telah dituduh menyembah sesuatu yang “tidak Kelihatan” atau “Fiktif”. Karena pertanyaan ini mengganggu dirinya, saya pun bersusah payah mencari ilmu Ma’rifatullah demi teman saya…

Padahal dalam Agama Hal tersebut dilarang!! bukan karena tidak boleh dan tanpa alasan, karena sudah terbukti mau sekuat apapun kita memikirkan Allah, kita tidak akan mampu mencapaiNya dengan sesuatu “yang pernah kita lihat”  sedang diriNya pun tidak pernah kita lihat.

Larangan Berfikir tentang Dzat Allah

1. DALIL AL QUR’AN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “.(Q.S. Ali Imran : 190-191)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Q.S. Yunus : 101)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Q.S. Shaad : 27)

2. DALIL AS SUNNAH

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-sekali engkau berfikir tentang Dzat Allah ” (Hadits hasan, Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah)

nih lagi: Kata dzat yang disandarkan pada Allah kita ketemukan pada sabda Nabi saw, “Tafakkaruu fi khalkillah walaa tafakkarua fi dzatihi” (= berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah tapi jangan berpikir mengenai DzatNya).

firman Allah subhanahu wata’ala :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ

( الشورى : 11 )

” Tidak sesuatu pun yang serupa dengan Dia ( Allah ) , dan Dia Maha Mendengar , Maha Melihat ” . ( QS. As Syuuraa : 11 )

Menurut seorang pakar Leksikografi/Linguistik Arab yang bernama Louis Ma’luf, seorang Arab Non Muslim asal Beirut, Lebanon dalam karyanya yang berjudul al-Munjid fil Lughah wal ‘Alam page 16 (terbitan Lebanon: Dar al-Masyriq, 1986) beliau mengatakan bahwa al-Ilah: al-ma’bud muthlaqan (al-Ilah itu adalah Pribadi Yang Disembah secara Mutlak/Benar [the Only True God]), sedangkan ALLAH: ismu al-Dzat al-Wajib al-Wujud (ALLAH itu adalah suatu nama DZAT Yang Maha ADA yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ADA (the name of the DZAT as Causa Prima).

Sementara itu, Hans Wehr, seorang ahli Linguistik Arab asal Jerman yang Non Muslim juga dalam karyanya yang berjudul A Dictionary of Modern Written Arabic, page 314-315 (terbitan Munster, 1960) mengatakan bahwa istilah DZAT dalam bahasa Arab artinya Essence, Self, Jadi, berdasarkan penjelasan dari dua pakar bahasa Arab yang berlatar bangsa Arab dan bangsa Barat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ALLAH adalah sebuah NAMA dari al-Ilah.

Jelaslah sudah bahwa DZAT adalah Essence/ Self, yakni Pribadi Yang Menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi DZAT al-wajib al-wujud.

Dengan demikian istilah Dzat ==> bhs Arab = Self/ Essence yang artinya TIDAK SAMA dengan ZAT ==> bhs Indonesia = Matter/ MATERI yang berarti sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruangan ==> ini pasti TERBATAS,

Sedangkan DZAT dalam bahasa Arab tidak bermakna MATERI/ MATTER. Jadi makna DZAT (bhs Arab) bukanlah sejajar maknanya dengan ZAT (bhs Indonesia), meskipun istilah ZAT diadopsi dari kata DZAT. Namun, maknanya 180% berbeda scr diametral. Dan, saya tidak pernah mengatakan bahwa makna DZAT sama dengan ZAT.

ZAT dalam bahasa Indonesia selalu terkait dengan ciptaan/matter berdasarkan ilmu fisika yang mengenal 3 pembagian matter/zat: cair, padat, gas. Dan, fisika juga membuktikan bahwa matter/zat bisa berubah tapi TAK DAPAT DIMUSNAHKAN atau DIHANCURKAN.

Maka kalau kita menyebut Dzatullah (Dzat Allah), tidak berarti dzat di sini sama dengan ciptaan-Nya (zat cair, zat gas, cat padat). Sama seperti ketika kita mengatakan bahwa Allah mendengar, bukan berarti mendengar seperti makhluknya dengan indera dengar (telinga misalnya).

Kata Dzat yang disandarkan pada Allah kita ketemukan pada sabda Nabi saw, “Tafakkaruu fi khalkillah walaa tafakkarua fi dzatihi” (= berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah tapi jangan berpikir mengenai DzatNya).

Berpikir tentang ciptaan Allah akan menyadarkan kita bahwa Allah itu ada; eksistensi Allah itu nyata.

Tapi jangan sampai kita berpikir tentang Dzat Allah atau sosok Allah. Mengapa? Kita tak akan pernah mampu.

Bukankah Dia Mutlak (Absolute). Tak terbatas oleh ruang dan waktu; termasuk tak terbatas oleh alam pikiran manusia. Sementara manusia serba relatif. Ambil contoh, mata kita hanya untuk melihat benda mati saja sudah tertipu; tongkat lurus yang tertancap di air jernih bukankah kelihatan patah?

Bagaimana mata yang relatif ini akan mampu melihat Dzatullah yang tak terbatas itu? Maka pengetahuan kita tentang Dzat Allah tidak lain sebatas informasi yang dia berikan kepada kita: bagaimana sifatNya, apa namaNya; apa kehendakNya, dan sebagainya. Semua itu diinformasikan Allah melalui Al Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw.

Jika kita memaksakan diri untuk “mewujudkan” sosok tuhan dalam pikiran kita, pasti akan salah. Sebab, bukankah selama ini pengetahuan kita selalu berdasar persepsi yang menyandar pada apa saja yang pernah kita lihat?

Mengapa ada tuhan yang “diwujudkan” dengan empat tangan oleh para penganut Berhala? Karena sang pewujud dipengaruhi oleh persepsi mereka bahwa tuhan itu berkuasa dan kekuasaan itu, seperti gambaran kekuasaan manusia, disimbolkan dengan tangan.

Jadi, kembali lagi yang dimaksud Dzatullah adalah wujud Allah, yang wujud itu tak mungkin bisa  digambarkan, atau didefinisikan oleh manusia.

Kata Dzat selalu dirangkai dengan sifat Kemahaan-Nya dipakai untuk menyebut kata ganti Allah SWT Pencipta Jagat Raya. Sedangkan hakikat Allah tidak dapat ditangkap dengan indera makhluk-Nya. Allah tidak  sama dengan zat-zat yang diciptakan-Nya.

“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS.Al-Ikhlas:4)

Perwujudan Allah ada atau pun tidak,,tetap tidak akan memuaskan kita sebagai manusia yang bisa saja perwujudan Allah dalam sesuatu menimbulkan masalah baru dan kontroversial bagi kita karena keanehan bentuk itu, Na’udzubillahi Min Dzalik Tsumma Na’udzubillah…Wallahu’alam Bis Shawab

akhirul kalam, Janganlah percaya kepada Allah karena kamu melihat BentukNya dan karena Dia memunculkan Diri padamu, tapi percayalah karena engkau tahu bahwa Dia ada dan menciptakan kamu….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s